Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Andjas Asmara pernah menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk sepak bola. Dia merasa berdosa telah membuat ribuan orang kecewa. Andjas gagal mengeksekusi tendangan penalti, yang menghentikan langkah tim nasional tampil di Olimpiade Montreal 1976. “Saya mengecewakan banyak orang,” katanya.

Kamis malam, 26 Februari 1976, itu benar-benar menjadi malam kelabu setelah Indonesia dikalahkan Korea Utara 4-5. Jika saja tendangan Andjas itu masuk, yang kelak bakal dikenang sebagai tendangan bersejarah, tim nasional pasti tampil di Olimpiade. Tapi dia gagal dan melukai hati banyak orang, yang kemudian membuat dia menutup hatinya untuk sepak bola.

Setelah 30 tahun berlalu, akhirnya Andjas–lahir di Medan, 30 April 1950–menyerah. Pada pengujung 2006, di kedai kopi Hotel Hilton (kini Sultan), saya berhasil mencairkan hati Andjas, yang sudah sekian lama membeku.

Sepak bola kini tak hanya kembali bersemi di hati anak didik kesayangan Wiel Coerver itu, tapi sudah bergulir ke mana-mana, juga singgah di hati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jika sekelas presiden saja ikut membicarakan sepak bola, berarti sepak bola nasional semakin penting, jika kita malu mengatakan sudah genting.

Gagasan menggelar kongres sepak bola nasional (kemudian menjadi sarasehan) adalah ide yang cemerlang. SBY berbicara pada saat yang tepat ketika persepakbolaan nasional sedang karut-marut dan para pengelolanya, terutama Nurdin Halid, sebagai orang nomor satu di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, tak henti-henti diterjang caci maki.

Saya tidak akan pernah membayangkan ending sarasehan yang bakal digelar di Yogyakarta itu (semula di Malang dan perpindahan ini sudah diusulkan kepada Andi Alifian Mallarangeng). Jika pertemuan yang bakal dihadiri orang-orang yang berkepentingan dengan sepak bola nasional tersebut diarahkan agar FIFA membekukan PSSI sebagai anggotanya, tentu saja itu sangat mengerikan.

Saya tidak akan mengatakan setuju atas apa yang disepakati sejak awal ini. Tapi apa lagi kalau bukan target itu yang dipasang jika waktu dan pikiran sudah dibuang dalam sarasehan nanti. Jika hanya berbentuk rekomendasi perbaikan-perbaikan, menurut saya, Nurdin dan pasukannya lebih jago. Nurdin sudah berbuat ketika orang lain baru memulai berpikir. Ketika banyak orang belum tertidur lelap, Nurdin sudah membangun mimpinya menggelar Piala Dunia 2022 di Indonesia, yang kemudian rencana ini benar-benar hanya sebuah mimpi.

Jika titik persoalan dari masalah-masalah persepakbolaan nasional ada pada diri Nurdin Halid, lebih baik sarasehan nanti hanya merekomendasikan dia mundur. Nurdin pasti tidak akan berpikir lama untuk memenuhi tuntutan ini. Dia akan dicatat dalam lembaran sejarah sepak bola nasional ketika banyak orang semakin mencintai sepak bola dan bukan membencinya.

Permintaan mundur pernah diajukan kepada Kardono (menjabat dua periode, 1983-1987, 1987-1991). Dia diminta mundur setelah Indonesia dipermalukan Thailand 7-0 di semifinal SEA Games Bangkok 1985. Padahal, pada awal kepengurusannya, tim nasional meraih gelar juara Sub III Zona Asia Pra-Piala Dunia 1985. Waktu itu, saya, yang hadir di kolong Stadion Nasional Bangkok, melihat Kardono marah besar ketika ada wartawan yang bertanya kapan dia meninggalkan PSSI.

Kardono tidak lantas tidur menyikapi tuntutan ini. Sebelum dia terpilih untuk yang kedua kalinya, tim nasional sudah meraih prestasi sebagai semifinalis Asian Games Seoul 1986 serta peraih emas SEA Games Jakarta 1987 dan SEA Games Manila 1991 sebelum dia benar-benar meninggalkan PSSI.

Azwar Anas, yang menggantikan Kardono dan menjabat untuk dua periode (1991-1995, 1995-1999), tidak pernah diminta mundur. Jika dia mundur pada 1997–selanjutnya Agum Gumelar memimpin PSSI–itu atas kesadaran sendiri. Agum kemudian memimpin organisasi sepak bola nasional itu hingga 2003 sebelum Nurdin terpilih.

Sepak bola sudah berada di hati Andjas Asmara, Kardono (meninggal pada 11 Mei 2003), Azwar Anas, dan juga Agum Gumelar. Empat tokoh sepak bola nasional ini boleh disebut para pemimpi sepak bola, karena di hati mereka ada cinta dan cita-cita seperti yang tersimpan di hati tiga siswa SMA Negeri Manggar, SMA pertama yang berdiri di Belitung bagian timur (Sang Pemimpi).

Tapi tidak untuk Nurdin karena dia telah mengecewakan banyak orang. Dia boleh disebut sebagai sang pemimpi, tapi sepak bola tidak boleh berada di hatinya karena tidak terlihat ada cinta di sana. Dia tidak seperti Andjas yang berani mengatakan, “Saya mengecewakan banyak orang.”

(Koran Tempo, Minggu, 21 Februari 2010, Ilustrasi Yuyun Nurachman)