Tag

,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Jacksen Ferreira Tiago tidak akan bisa disetarakan dengan Nurdin Halid. Dia hanyalah pekerja sepak bola yang datang dari Brasil. Dia tidak memiliki kekuatan apa-apa, dan pelatih Persipura Jayapura itu setiap saat bisa menjadi orang usiran, sekalipun dia pernah mengatakan,” Saya ingin lebih lama lagi di Papua.”

Jacko–dia lahir di Rio de Janeiro, Brasil, 28 Mei 1968–hanyalah bagian kecil dari sepak bola kita. Namun dia sudah membuat hidupnya semakin lengkap setelah hampir 16 tahun berada di Indonesia. Diam-diam dia mencintai sepak bola negeri ini dan berani mengorbankan kebersamaan bersama istri serta dua anaknya–Mateus dan Ayub–yang tinggal di Brasil. Dia berperilaku baik dan kebaikan-kebaikan yang dia miliki persis seperti yang tersimpan di hatinya. Jika terlihat dia beraksi di lapangan, yang membuat banyak orang tak berkenan, sejatinya aksi itu bisa dilihat sebagai pertanggungjawaban Jacko sebagai profesional.

Saya masih menyimpan pesan singkat yang dia kirim satu jam setelah Persipura Jayapura melakukan mogok bermain di final Copa Indonesia 2009 melawan Sriwijaya FC di Stadion Jakabaring, Palembang, akhir Juni tahun lalu. Dia mengawali pesannya dengan permintaan maaf setelah saya menanyakan apa yang terjadi di partai final itu.

“Semua orang lepas kendali. Seharusnya kami bicara kehebatan Boaz Solossa, Zah Rahan, Ferry Rotinsulu, Obiora, dll. Tapi besok berita di koran adalah kekacauan lagi dalam sepak bola kita.”

Saya tidak akan pernah mengira ketika dia seperti mengklaim dengan menulis “sepak bola kita”, yang kemudian saya maknai sebagai sebuah kecintaan lelaki berkulit legam itu. Dia hanyalah orang asing yang mencari makan di negeri ini. Namun, dengan cinta pula, dia melengkapi hidupnya sebagai seniman bola.

Dia mengawali sukses ini dengan membawa Petrokimia Putra Gresik tampil sebagai runner-up Liga Indonesia musim kompetisi 1994/1995. Pada musim kompetisi 1996/1997, Jacko ikut mengantar Persebaya meraih gelar juara dan tampil sebagai pencetak gol terbanyak dengan mengemas 26 gol. Tujuh tahun kemudian, pada musim kompetisi 2004/2005, Jacko membawa Persebaya menjadi juara. Dia menambah satu catatan lagi dengan membawa Persipura Jayapura menjuarai Liga Super musim pertama pada 2008/2009.

Jacksen Tiago tidak akan bisa disetarakan dengan Nurdin Halid. Dia hanya pekerja sepak bola yang meraih cita-citanya tidak dengan mudah. Dia tidak seperti Nurdin, yang menerima berbagai kemudahan menjadi orang nomor satu di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, yang sudah menyatakan tetap bercokol di sana sebelum prestasi tim nasional benar-benar hancur.

Buat Nurdin, semua begitu mudah, semudah dia mengangkat sejumlah nama menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI (restrukturisasi periode 2009-2011). Komite Eksekutif PSSI–di dalamnya termasuk ketua umum dan wakil ketua umum–menurut saya, adalah kumpulan manusia pilihan yang dipilih kongres. Anggota terpilih harus telah aktif di sepak bola sekurang-kurangnya lima tahun dan tidak sedang dinyatakan bersalah atas melakukan suatu tindakan kriminal pada saat kongres.

Apa yang tercantum dalam Pedoman Dasar PSSI ini jelas dan tidak boleh ada yang membantah sekalipun Joseph Refo, salah satu anggota, diduga melakukan kekerasan rumah tangga yang membuat istrinya tewas. Kasus ini, buat saya, sangat tidak menarik. Jauh lebih menarik mempertanyakan siapa dia? Di mana dia beraktivitas sepak bola selama lima tahun? Apakah dia bisa mengendalikan diri? Cintakah dia pada sepak bola Indonesia?

Komite Eksekutif adalah kumpulan manusia pilihan yang tak seorang pun boleh ragu akan kemampuan mereka. Kekuasaan Komite Eksekutif sangat luar biasa dan berwenang menyiapkan serta melakukan pemanggilan untuk kongres biasa dan kongres luar biasa PSSI. Komite juga berwenang mengangkat atau memberhentikan sekretaris jenderal, yang kini masih dijabat Nugraha Besoes.

Saya tidak mengenal jauh semua yang duduk di Komite Eksekutif PSSI. Saya hanya mengenal beberapa saja ketika terdengar suara keras di dalam organisasi sepak bola nasional itu. Saya mendengar ada yang merasa sudah berbuat banyak untuk sepak bola Indonesia. Padahal dia sudah menjadi benalu. Ketika Nurdin Halid masih berada di penjara Salemba, misalnya, alih-alih membuat sepak bola nasional segar dan berwibawa, orang yang satu ini membuat barisan menggusur sang ketua.

Saya sungguh berharap banyak kepada Komite Eksekutif yang saya sebut sebagai kumpulan manusia pilihan. Seharusnya mereka keluar kantor, melepas dasi, dan lebih banyak bicara ketika persepakbolaan nasional sudah semakin kusut. Juga ketika Nurdin–yang tidak bisa disetarakan dengan Jacksen Tiago–sedang dihujat dan diminta segera meninggalkan PSSI.

(Koran Tempo, Minggu, 28 Februari 2010, Ilustrasi Imam Yunni)