Tag

,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Kintani sangat menyesal tidak berangkat ke Birmingham. Dia sudah membayangkan menyaksikan Taufik Hidayat di arena All England dan berada dalam kereta api menuju Stasiun New Street, yang membawanya dari Stasiun Euston di London selama dua jam perjalanan.

Saya tidak mampu meraba suasana hati wanita berkulit putih itu ketika semua yang terbayangkan menjadi berantakan. Kemarin dinihari, langkah Taufik dihentikan Peter Hoeg Gade, pemain bulu tangkis Denmark, lewat pertarungan dramatis sekaligus mengubur mimpi Taufik meraih gelar juara di National Indoor Arena, Birmingham.

Birmingham bisa menjadi “kejam” ketika Taufik selalu gagal di sana. Dua gelar juara yang sudah dia raih, Olimpiade Athena 2004 dan Kejuaraan Dunia Amerika Serikat 2005, akan menjadi lengkap jika dia menjuarai All England. Tapi dia selalu gagal. Dia baru sampai final pada 1999 dan 2000. Selebihnya kandas. Bahkan, lebih buruk lagi, pada 2003 dia tersingkir pada putaran pertama.

Taufik selalu ingin pergi ke Birmingham. Tahun lalu, di semifinal, Taufik, yang tampil sebagai pemain profesional (Januari 2009, dia meninggalkan status sebagai pemain Pelatnas Cipayung), dihentikan Lee Chong Wei, pemain bulu tangkis Malaysia. Sebelum bertemu dengan Chong Wei, Taufik menyingkirkan Peter Gade.

Bisa jadi ini adalah dendam Gade. Tapi Taufik tidak akan pernah membiarkan dendam itu membara di hati lawannya itu. Jika pertandingan ini harus selesai, Taufiklah yang mengakhirinya. Dia gagal mengembalikan bola dan partai yang dramatis ini berakhir 22-20, 20-22, 20-22 setelah berlangsung selama 1 jam 21 menit.

Taufik dan Gade kembali mempertontonkan pertarungan yang berkelas dan, bisa jadi, ini pulalah yang membuat Kintani, wanita berkulit putih itu, menyesal tidak berangkat ke Birmingham. Saya tidak tahu apakah Taufik sudah berada di hatinya. Taufik dengan segala kelembutannya, dingin, dan tidak emosional.

Taufik–dia lahir di Bandung, 10 Agustus 1981–adalah entertainer. Dia adalah seniman di arena bulu tangkis. Perjalanan hidupnya penuh warna, terkadang kontroversial, dan dia punya kemampuan mengaduk-aduk perasaan orang yang menontonnya. Suami Armi Gumelar–yang dia nikahi pada 2006 dan memberinya seorang anak, Natarina Alika Hidayat (lahir pada 3 Agustus 2007)–juga menyimpan berbagai kelebihan.

Smes dengan kecepatan 305 kilometer per jam adalah salah satu kelebihan yang dimiliki Taufik yang tidak dimiliki atlet lain. Ini ia peragakan ketika menggulung Ng Wei dari Hong Kong pada babak pertama Kejuaraan Dunia 2006 di Madrid, Spanyol. Taufik menang di game pertama, 21-17. Pada game kedua, Ng memimpin 2-0. Ng melakukan servis yang dikembalikan Taufik dengan pukulan lob forehand-nya. Tapi ini merupakan umpan Taufik agar Ng mudah mengambil bola. Ng kemudian mengangkat bola itu cukup tinggi dan tentu saja ini merupakan makanan empuk bagi Taufik. Dia pun segera melakukan smes tajam. Komentator pertandingan itu berulang-ulang memujinya. “Sangat luar biasa. Itu yang tercepat yang pernah kita lihat. 305 kilometer, sangat akurat,” kata sang komentator. Taufik menang 21-17, 21-17.

Tak cukup dengan smes tajam, Taufik “mengadali” Ng lewat backhand yang cerdas. Memimpin 14-11 pada game kedua, Taufik melakukan servis. Ng pun mengembalikan bola jauh ke kiri belakang Taufik. Ng Wei tak menyangka pukulannya itu justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Lewat backhand-nya, Taufik mengambil bola itu dan menyarangkan smes ke arah kanan belakang Ng, yang tidak dapat dikembalikannya. Penonton pun berteriak. “Bagaimana bisa dia melakukan pukulan backhand seperti forehand?” kata komentator itu lagi.

Tak hanya Ng Wei, Lee Chong Wei pun pernah merasakan dahsyatnya backhand Taufik. Bahkan pemain Inggris, Andrew Smith, berkali-kali dipecundangi lewat backhand-nya yang mematikan itu.

Taufik juga sangat pandai mempermainkan perasaan penonton. Ini bisa terlihat ketika dia bertemu dengan Peter Gade pada babak perempat final Djarum Indonesia Super Series 2009. Ini terjadi pada game ketiga, setelah skor 21-19, 8-21. Pada babak ini, beberapa kali skor draw tercipta. Ketika Taufik memimpin 20-18, dia seakan melepaskan permainan dan memberikan kemenangan untuk Gade. Gade pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan menyamakan kedudukan menjadi 20-20. Tapi Taufik kembali memimpin 21-20. Di tengah ketegangan dan kecemasan penonton, Taufik menutup pertandingan dengan mengambil poin terakhir. Penonton menyambut kemenangan Taufik di bawah iringan lagu Gebyar-gebyar milik Gombloh, yang dinyanyikan ulang oleh grup band Cokelat. Tak terlihat kecewa, Gade justru menikmati euforia itu dengan memberikan tepuk tangan penghormatan ke arah penonton yang memadati Istora Gelora Bung Karno.

Akhir pertandingan ini mirip pertarungan Taufik melawan Gade di perempat final All England kemarin dinihari. Partai yang disesaki “dendam” dan emosional. Taufik kembali gagal, tapi saya melihat ini merupakan “kemenangan” Taufik sebagai penghibur.

All England agaknya sulit ditaklukkan Taufik dan pemain-pemain yang tampil di tunggal putra. Sejak kejuaraan dunia tidak resmi itu digelar pada 1899, hanya lima pemain bulu tangkis Indonesia yang menjadi juara di sini. Mereka adalah Tan Joe Hok (1959), Rudy Hartono (1968 sampai 1974 dan 1976), Liem Swie King (1978, 1979, dan 1981), Ardy B. Wiranata (1991), serta Heryanto Arbi (1993 dan 1994). Empat belas dari 15 gelar juara itu diraih di Wembley Arena, Wembley, London.

All England kemudian dipindahkan ke Birmingham pada 1994. Heryanto Arbi meneruskan tradisi juara di sini. Selanjutnya, tak satu pun atlet tunggal putra Indonesia membawa pulang gelar juara. Bahkan, sejak 2004, Birmingham–dua jam perjalanan naik kereta api dari London dengan ongkos sekitar 40 pound sterling–sudah dikuasai atlet-atlet Cina. Birmingham hanya menyisakan satu gelar juara tunggal putra kepada Joko Suprianto ketika dia meraih gelar juara dunia 1993, yang digelar di sana.

Taufik ingin sekali mewujudkan mimpi di All England dan saya tidak tahu apakah dia akan kembali lagi ke All England 2011. Jika masih ada kereta terakhir menuju Stasiun New Street, Birmingham, sejatinya Taufik tidak mengubur mimpinya di sana.

(Koran Tempo, Minggu, 14 Maret 2010, Ilustrasi Gaus Surachman)