Yon Moeis
Wartawan Tempo

Sumohadi Marsis masih saja tidak pernah bisa menunda pekerjaan. Dia berdiri dan bergegas memenuhi permintaan wawancara Metro TV. Secangkir teh yang terhidang di mejanya, yang ia tinggalkan, masih hangat. “Sekarang saja,” kata Sumo. Wartawati cantik stasiun televisi itu pun terlihat gelagapan.

Sumohadi–saya memanggilnya Mas Sumo–kini banyak dicari orang atau, setidak-tidaknya, ada saja yang ingin menemuinya. Dia adalah inisiator rekomendasi yang harus dikeluarkan dalam Kongres Sepak Bola Nasional, yang digelar di Malang, akhir Maret nanti. Salah satu rekomendasi dalam pertemuan yang bakal dihadiri 500 peserta itu adalah menurunkan Nurdin Halid dari kursi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Dan soal yang satu ini, kata Sumo, “Tentu saja dengan cara yang elegan, yang tidak membuat orang terluka.”

Saya percaya pada apa yang akan dikerjakan Sumo. Dia bekerja lebih banyak mengandalkan naluri sebagai wartawan. Dia hanya menyelesaikan pekerjaan yang ia pahami. Dia berucap sesuai yang ada di hatinya. Sumo kini berada dalam waktu dan tempat yang tepat. Saya mengumpamakan Sumo sebagai pengatur serangan, yang memainkan perannya ketika persepakbolaan kita sedang dalam kondisi karut-marut.

Sumohadi–dia lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, 8 Juli 1945–adalah bagian dari perjalanan panjang sepak bola kita. Sudah beratus-ratus pertandingan sepak bola ia saksikan. Sudah berjuta-juta kata ia tulis dari lapangan sepak bola. Kini, jika dia harus bicara sepak bola (nasional), hanya orang bodoh yang ragu akan kemampuannya.

Sumo adalah salah satu saksi ketika tim nasional tampil di Pra-Olimpiade 1972 di Rangoon, Burma. Indonesia berebut tiket ke Muenchen bersama Israel, India, Thailand, Sri Lanka, dan Burma. Tim nasional, yang diperkuat antara lain Iswadi Idris, Yakob Sihasale, dan Ronny Pattinasarany, maju ke semifinal sebelum dihentikan Burma, yang kemudian lolos ke pesta olahraga dunia itu setelah menyikat Thailand di final. Saya tidak tahu, waktu itu, Nurdin Halid ada di mana.

Saya mengenal Sumo ketika kami sama-sama meliput SEA Games Bangkok 1985 dan bermalam di hotel yang sama di Bangkok Palace. Menjelang SEA Games Jakarta 1987, Sumo mengajak saya bergabung ke tabloid olahraga Bola, yang ia pimpin. Dari sini kemudian saya mengenal Sumo lebih jauh. Saya pun mengenal Sumo lebih dalam lewat tulisan-tulisannya, yang ia tuangkan dalam rubrik “Catatan Ringan”.

Pengalaman Sumo sebagai wartawan olahraga belum tertandingi. Dia sudah pergi ke lebih dari 30 negara. “Bayangkan saja, sehari di Zurich, dua hari di Paris, dua hari di Brussel, dua hari di Amsterdam, lalu kembali lagi ke Frankfurt…,” tulis Sumo dalam “Misteri Spink” (8 Juli 1988).

Dia juga sudah menemui dan mewawancarai sejumlah olahragawan dunia. “Saya merasa termasuk beruntung tahun ini. Paling tidak karena sempat bertemu dengan dua atlet yang paling terkenal di dunia, Diego Maradona dan Mike Tyson,” tulis Sumo dalam “Maradona” (29 Desember 1989). Sumo bertemu dengan Maradona ketika bintang Argentina itu masih bermain di Napoli dan bertemu dengan Tyson, si Leher Beton, ketika meliput pertarungan Sugar Ray Leonard melawan Roberto Duran di Las Vegas, Amerika Serikat.

Sumo juga boleh berbangga telah mewawancarai Pele dua kali serta meliput Piala Dunia Meksiko 1986 dan Piala Dunia Italia 1990. Dan, hanya untuk menemui Fandi Ahmad, Sumo harus berpacu dengan waktu mengejar kereta dari Rotterdam menuju Amsterdam. Padahal partai Sparta melawan Groningen, yang diperkuat Fandi (sebelumnya budak Melayu ini memperkuat Niac Mitra Surabaya), batal digelar.

Catatan Sumo benar-benar ringan, seringan kapas ditiup angin. Dia menulis dengan cerdas, berisi, dalam, dan tajam. Kritiknya pedas. Dia menyindir, dan bisa membuat orang yang ia sindir tidak merasa tersindir. Sumo berusaha memahami Persebaya Surabaya ketika tim berjulukan Bajul Ijo itu memainkan sepak bola gajah di arena Perserikatan 1988 sebagai bagian dari strategi. Alih-alih ikut memaki, Sumo malah menyarankan Persebaya meminta maaf kepada publik sebagai bagian dari strategi lanjutan ketika tim kebanggaan masyarakat Surabaya itu terus mendapat cemooh.

Saya tidak akan pernah ragu terhadap Sumohadi, pengatur serangan itu (dia pandai bermain sepak bola dan tenis). Tapi, diam-diam, saya mulai cemas, perjuangan melengserkan Nurdin Halid menjadi lemah dan meleleh lantaran ada pengkhianat di dalamnya. Saya ragu, kongres tidak akan menghasilkan apa-apa dan perjuangan yang sudah dibangun itu tiba-tiba roboh.

Saya juga cemas ada orang yang ingin “meracuni” Sumohadi sebagai inisiator rekomendasi dalam kongres dengan membayangkan seorang kawan menghunuskan pisau belati di punggung Sumo ketika kawan itu memeluknya. Jika ini terjadi, Kota Malang, yang sering dikunjungi Sumo, hanya bakal meninggalkan luka.

(Koran Tempo, Minggu, 21 Maret 2010, Ilustrasi Imam Yunni)