Yon Moeis
Wartawan Tempo

Arifin Panigoro selalu menyempatkan waktu untuk bicara sepak bola dan tidak pelit membagi pengalaman kepada siapa pun. Dia tak peduli siapa teman bicaranya dan, jika obrolan sudah digelar, pengusaha itu bak seorang penyerang, yang tampil tajam, menekan, dan seketika melemahkan pertahanan lawan.

Tanggal 14 Maret lalu, Arifin–lahir di Bandung–genap berusia 65 tahun. Dia merayakan hari istimewa ini bersama rekan-rekannya di Griya Jenggala di kawasan Jakarta Selatan. Ketika sebagian besar undangan–terlihat pula Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Cameron R. Hume–sedang menikmati pempek dan burung dara goreng, Arifin memilih berkelompok di teras sayap kiri rumahnya yang asri itu.

Di sana terlihat Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Letnan Jenderal TNI (Purn) Evert Ernest Mangindaan, serta mantan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Letnan Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar.

Saya, atau siapa pun yang melihat dari jauh, pasti menduga obrolan Arifin bersama tiga jenderal itu seputar penurunan Nurdin Halid dari kursi Ketua Umum PSSI, yang bakal direkomendasikan dalam Kongres Sepak Bola Nasional di Malang pada 30–31 Maret nanti.

Ternyata tidak. Alih-alih ngomongin Nurdin, Arifin malah bicara lebih jauh ke depan. Di hadapan 12 mantan pemain nasional yang dipimpin Oyong Liza, yang berkunjung ke rumahnya pada Minggu lalu, Arifin sekilas menggambarkan pertemuan itu dengan mengatakan, “Penyakit PSSI sudah kronis. Untuk memperbaiki sepak bola Indonesia, penyelesaiannya bukan sekadar mengganti Nurdin Halid.”

Nama Arifin Panigoro, George, Mangindaan, dan Agum sudah dimunculkan dan digadang-gadang bakal menggantikan Nurdin setelah Ketua Umum PSSI yang pernah mendekam di penjara itu terus mendapat kecaman. Tetapi ternyata benar apa kata Arifin. Persoalannya bukan siapa yang bakal menggantikan Nurdin. Membicarakan masa depan sepak bola Indonesia jauh lebih penting ketimbang terus mempergunjingkan Nurdin.

Pertemuan terbuka di teras Griya Jenggala itu kemudian berlanjut di sebuah ruangan yang tak jauh dari kolam renang. Nama Nurdin pun lagi-lagi tak tersebut, sekalipun hanya sepotong. Mangindaan lebih banyak diam. Hati Lape–demikian mantan Gubernur Sulawesi Utara ini biasa disebut–sama sekali tak tergerak jika ada yang menyebut namanya bakal menjadi Ketua Umum PSSI. Dia tak ingin ada yang mengatakan kongres hanyalah arena penggusuran “biru” terhadap “kuning”.

Agum Gumelar lebih memilih mengamankan kongres. Dia tidak ingin pesta sepak bola masyarakat sepak bola ini dicemari oleh tangan-tangan yang selama ini sudah mempolitisasi sepak bola. Sedangkan George terlalu sibuk menambah pekerjaan mengurus sepak bola karena dia adalah Ketua Umum Persatuan Judo Seluruh Indonesia. Dari sini saya boleh mengatakan empat tokoh ini tentu saja tak ingin tangan mereka menjadi kotor hanya untuk membersihkan debu-debu yang ada di tangan Nurdin.

Arifin memiliki banyak teman. Setidak-tidaknya itu terlihat dari orang-orang yang datang ke rumahnya. Pipin–demikian teman-teman dekatnya memanggil Ketua Umum Persatuan Golf Indonesia itu–berteman dan memelihara pertemanan itu dengan baik. Agum adalah salah temannya sejak kecil. Keduanya pun satu sekolah di SMA di Bandung. Pipin adalah penjaga gawang tim sepak bola sekolahnya dan sering merasa sebal jika Agum yang membobol gawangnya.

Lantaran pertemanan ini pula, Arifin sering kedatangan tamu yang terangan-terangan meminta dia menjadi orang nomor satu di PSSI. Ketika Nurdin berada di penjara Salemba, Arifin didatangi sekelompok orang, yang kemudian saya tahu orang-orang ini disebut sebagai pengkhianat. Mereka mendorong Arifin sekaligus menyebutkan sejumlah dana yang harus dikeluarkan pendiri Medco Group itu. Untung ada Ronny Pattinasarany, yang tidak ikut-ikutan menjebloskan Arifin. Bahkan mantan pemain nasional itu mengarahkan Arifin untuk berfokus pada pembinaan usia dini dengan mendirikan Liga Medco bagi pemain-pemain di bawah 15 tahun.

Liga yang sudah bergulir sejak 2006 itu setiap tahun melibatkan 3.000 anak dan 500 pemain yang tampil di putaran final. Liga yang dibiayai dari kantong Arifin senilai Rp 2 miliar setiap kali berputar itu setiap tahun melahirkan sekitar 50 pemain jadi. Setelah bergulir selama empat tahun, Liga Medco menghasilkan sekitar 3.000 anak-anak berbakat. Pemain-pemain yang kini berlatih di Uruguay sebagian besar lulusan Liga Medco.

Hanya ini yang bisa diberikan Arifin untuk sepak bola nasional. Tapi bukan karena ini pula dia lantas harus memimpin PSSI. Dalam Kongres PSSI di Makassar pada 2007, misalnya, dia kembali menolak permintaan segelintir orang yang kembali mendorongnya dengan menjagokan Ronny Pattinasarany. “Seperti Franz Beckenbauer, Michel Platini, saya ingin orang-orang bola mengurus sepak bola,” kata Arifin.

Saya tentu saja tidak akan ikut-ikutan “menjebloskan” Arifin dan tidak pernah mencoba menjadi pengkhianat. Saya cukup senang ketika bola kini berada di kaki Arifin, George, Agum, Mangindaan–tiga jenderal yang ngobrol soal sepak bola di Jenggala–bukan di kaki koruptor dan kumpulan maling-maling kecil.

(Koran Tempo, Minggu, 28 Maret 2010, Ilustrasi Imam Yunni)