Yon Moeis
Wartawan Tempo

Alex Noerdin seperti tak ingin cepat menyelesaikan makan siangnya. Dia mulai menikmati makanan-makanan pembuka dengan menyantap udang tempura, yang menjadi salah satu menu andalan Buddha Bar, restoran yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta. “Karena enak, boleh tambah dua lagi,” kata Alex.

Ini ketiga kalinya saya bertemu dengan Alex dan duduk satu meja dengannya setelah yang pertama ketika ia masih menjadi Bupati Musi Banyuasin pada 2008. Gubernur Sumatera Selatan itu tetap hangat. Dan, seperti biasa, dia memulai dengan cerita-cerita ringan, termasuk ketika terdampar lima hari di Paris ketika abu vulkanik Islandia melumpuhkan sejumlah penerbangan di Eropa pada awal April silam.

Rabu lalu, Alex singgah ke Jakarta untuk memaparkan persiapan Sumatera Selatan menjadi tuan rumah SEA Games 2011. Berada di Buddha Bar, restoran yang hanya ada di Beirut, Dubai, Kairo, London, Kiev, Jakarta, Sao Paolo, dan Praha, saya melihat dia tidak seperti tamu spesial. Alex bisa menjadi public relations yang baik dengan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang sudah dikerjakan. Kalimat-kalimatnya tersusun rapi. Suaranya enak terdengar, intonasinya naik-turun sesuai dengan arah ke mana dia hendak menekankan isi pernyataannya.

Dari gambaran Alex, Sumatera Selatan kini sedang mempersiapkan diri menyambut pesta olahraga Asia Tenggara itu. Di sana sedang dibangun 14 fasilitas olahraga berstandar internasional, perkampungan atlet, dan sport science center. Proyek besar ini membutuhkan dana Rp 1,5 triliun dan, kata Alex, ia tidak memakai sepeser pun dana anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Penjelasan Alex tidak berhenti pada angka itu ketika seorang teman bertanya apakah ia sudah memperhitungkan jika nanti berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Saya menduga teman tadi hanya ingin mengukur seberapa besar nyali Alex. Tapi sang gubernur yang suka olahraga menyelam dan menembak serta menerbangkan pesawat itu tidak lantas terpojok.

“Jika saya takut, tidak akan pernah ada SEA Games di Sumatera Selatan,” katanya. “Saya bekerja sesuai aturan, dan tidak ada urusan dengan KPK. Jadi pemimpin harus berani mengambil risiko.”

Keberanian Alex mengambil risiko sudah saya rasakan ketika dia akan meninggalkan jabatan bupati untuk tampil menjadi gubernur. Padahal dia diyakini tak mampu menghadang incumbent. Alex–lahir di Palembang, 9 September 1950–bakal menjadi pengangguran. Tapi dia tetap maju untuk membangun tanah kelahirannya. “Jika tidak jadi gubernur, saya akan habiskan waktu bersama cucu-cucu,” kata Alex ketika kami bertemu di Sekayu, Musi Banyuasin.

Alex kini sedang mewujudkan mimpi menjadikan Sumatera Selatan sebagai provinsi nomor satu di negeri ini. Totalitas Alex sungguh membanggakan, dan dia tahu hanya lewat olahraga semuanya bisa tercapai.

Saya pernah berharap totalitas itu juga ada pada diri Andi Alifian Mallarangeng ketika dia dijagokan menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Saya tidak mengenal Andi dan tentu saja tidak akan pernah duduk satu meja dengannya. Saya hanya tahu dia adalah juru bicara Istana yang cerdas, responsif, dan punya kemampuan sebagai pengamat sekaligus pelaku politik.

Saya tidak melihat Andi sebagai orang yang terbuang dari Istana. Jabatan menteri bukanlah hadiah. Dia dipercaya sekaligus untuk mengangkat kembali olahraga nasional yang terpuruk. Saya pun menulis surat terbuka untuk dia (Surat untuk Andi Alifian Mallarangeng, “Pak Menteri, Jadilah Petinju Bertipe Slugger”, Koran Tempo, Minggu, 25 Oktober 2009/www.yonmoeis.wordpress.com). Dalam surat itu, saya juga sangat berharap dia menjadi petinju dalam menyikapi masalah-masalah di dalam sepak bola nasional dan menghadapi para pelakunya.

Tapi saya harus kecewa. Andi kini sedang berupaya memperebutkan kursi PD-1, dan saya harus menerjemahkan bahwa menjadi orang nomor satu di partai jauh lebih penting ketimbang mengurus olahraga. Kekecewaan ini pula yang saya rasakan ketika dia tidak cerdas melihat kondisi sepak bola kita. Jika Andi mau, ia tak hanya menggusur mantan narapidana itu, tapi juga sekaligus menyelamatkan sepak bola Indonesia yang sedang karut-marut. Dan, secara politis, Andi akan dikenang sebagai menteri olahraga yang membawa perubahan dalam sepak bola nasional.

Saya tidak berani meraba-raba gejala yang sedang terjadi. Juga tidak akan ikut-ikutan pengamat yang mengatakan ada pergeseran nilai dalam elite. Ada juga yang mengatakan pemimpin kita sudah mati rasa dan kehilangan kepekaan. Saya hanya mengibaratkan pak menteri itu sedang duduk sambil makan kacang rebus dan pergi ketika kacang tersebut sudah habis padahal pekerjaan yang dia emban belum selesai.

Di Buddha Bar, di dalam bekas gedung imigrasi itu, saya bertemu dengan Alex Noerdin. Dia sedang menikmati udang tempura, bukan kacang rebus.

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 16 Mei 2010, Ilustrasi Machfoed Gembong)