Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tidak ada yang berubah pada Christian Hadinata. Tetap tenang dan tidak meledak-ledak. Namun legenda bulu tangkis itu bisa juga emosional, cemas, dan tak mampu menahan rindu. “Saya selalu merindukan saat-saat Piala Thomas diperebutkan,” katanya.

Mas Chris–begitu saya memanggil Christian–bisa jadi selalu merindukan Piala Thomas, piala yang sudah 13 kali kita miliki sejak diperebutkan pada 1949. Dia juga bisa emosional ketika adik-adiknya selalu gagal membawa pulang piala itu, termasuk ketika menjadi tuan rumah pada 2008 (dihentikan Korea Selatan di semifinal). Indonesia terakhir menjadi juara pada 2002 setelah “pasukan khusus” Cipayung melibas Malaysia 3-2 di Guangzhou, Cina.

Hari ini (Minggu,9/5), di Putra Indoor Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Taufik Hidayat dan kawan-kawan mengawali pertarungan memperebutkan piala bergengsi di arena beregu putra itu. Christian, tentu saja, tak ingin Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Dyonisius Hayom Rumbaka, Markis Kido, Hendra Setiawan, Alvent Yulianto Chandra, Hendra Aprida Gunawan, Muhammad Ahsan, dan Nova Widianto menjadi pecundang.

Menjadi pecundang adalah pengalaman pahit. Apalagi jika itu kita alami di negeri orang. Saya pun mencoba memahami perasaan Mas Chris–dia tidak begitu senang disebut sebagai legenda bulu tangkis–setiap kali dia memaknai kegagalan sebagai hal yang biasa. Tapi kali ini tidak boleh terjadi. Taufik, peraih emas Olimpiade 2004 dan juara dunia 2005, optimistis Indonesia kembali menjadi juara. Dia telah yakin bahwa piala yang berasal dari nama Sir George Alan Thomas–mantan Presiden IBF (sejak 24 September 2006 berubah menjadi WBF) dan pemain bulu tangkis Inggris yang menyumbang piala itu pada 1939–tersebut adalah benar milik kita. “Selama motivasi itu masih ada dan menyala, saya tidak akan pernah meragukan mereka,” kata Christian.

Saya pun tak pernah ragu terhadap Christian. Lelaki kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 11 Desember 1949, itu sudah terlibat dalam perebutan Piala Thomas 1973 di Jakarta dan, di final, Indonesia menggasak Denmark 8-1. Setelah itu, Christian terus memperkuat Indonesia di lima Piala Thomas berikutnya.

Christian gantung raket setelah Indonesia “menyerahkan” kembali Piala Thomas kepada Cina di Jakarta pada 1986. Sebelumnya, di Kuala Lumpur pada 1984, Indonesia, yang diperkuat, antara lain, Christian, Icuk Sugiarto, dan Liem Swie King, merampas kembali piala beregu putra itu dari Cina. “Di Kuala Lumpur, untuk yang terakhir kalinya, saya memegang dan mencium Piala Thomas sebagai pemain,” kata Christian.

Kuala Lumpur terkenal dengan penonton yang fanatik, kejam, dan bisa meruntuhkan mental pemain. Tapi, ingat, selain Christian, yang pernah menaklukkan Kuala Lumpur pada 1984, Taufik Hidayat dan kawan-kawan pernah “menenggelamkan” ibu kota negeri jiran itu setelah menyikat Cina 3-0 pada putaran final Piala Thomas 2000.

Perjalanan hidup Christian juga merupakan bagian dari sejarah bulu tangkis Indonesia. Dia sudah menjadi penghuni pemusatan latihan nasional sejak 1972. Bersama Ade Chandra, Christian tidak kurang dari sembilan kali menjadi juara ganda tingkat dunia, termasuk All England. Ketika Ade Chandra mundur, Christian berpasangan dengan Tjuntjun. Pasangan ini dikatakan sebagai ganda terbesar dasawarsa ini dalam sebuah diskusi bulu tangkis antarnegara di Malmoe, Swedia, 1977.

Sebagai spesialis ganda, Christian ternyata mampu berpasangan dengan pemain mana saja. Dia pernah tampil bersama Iie Sumirat. Juga bersama Imelda Wiguna di nomor ganda campuran dengan perolehan gelar juara All England 1979 dan Asian Games 1982. Bersama Bobby Ertanto, ia tampil di Kejuaraan Dunia 1983 di Kopenhagen, Denmark. Bersama Liem Swie King, dia menjadi penentu perebutan Piala Thomas 1984, saat terakhir kali ia memegang piala itu sebagai pemain.

Kemampuan menyesuaikan diri dengan siapa pun yang menjadi pasangannya membuktikan bahwa Christian bisa “mengalah” untuk sebuah kebaikan yang disebut pencapaian prestasi bersama. Penghargaan Hall of Fame, yang ia terima dari Federasi Bulu Tangkis Internasional (kini BWF) sebagai penghargaan tertinggi di dunia bulu tangkis pada perebutan Piala Thomas 2002 di Guangzhou, Cina, juga membuktikan kecintaan Christian terhadap bulu tangkis, dunia yang sudah dia kenal sejak masih berusia 16 tahun.

Christian, yang dilukiskan rekan-rekannya di Klub Mutiara Bandung sebagai seorang pendeta, adalah orang baik. Dia lebih baik diam untuk mengoreksi diri ketimbang berdebat tanpa ujung. Dia memilih meneteskan cinta ketimbang menaruh duri di hatinya. Saya tak pernah melihat Christian–dia selalu menyebut ayahnya sebagai guru–berada di dalam persoalan-persoalan bulu tangkis kita: kontrak pemain yang selalu menjadi polemik, keluarnya pemain dari Cipayung, juga kepentingan klub yang masih terlihat di dalam pembinaan atlet. Dan kekuatan cinta Christian itu pulalah yang terlihat pada diri duta-duta bulu tangkis Indonesia, yang hari ini mengawali pertarungan memperebutkan Piala Thomas.

Taufik dan kawan-kawan tidak boleh menjadi pecundang dan kata ini tak boleh pula singgah di hati Christian, sang pendeta itu.

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 9 Mei 2010, Ilustrasi Imam Yunni)