Yon Moeis
Wartawan Tempo

Dulu Ferril Raymond Hattu dikenal sebagai libero terbaik Indonesia. Elegan, cerdas, dan sulit dilewati. Dia mengambil bola dengan sempurna tanpa harus menyakiti lawan. Akurasi umpannya terjaga dengan baik. Di luar lapangan, Ferril–dia enam tahun memegang ban kapten tim nasional–adalah pribadi yang menyenangkan.

Tidak ada yang berubah dari Ferril ketika kami bertemu di Malang pada akhir Maret lalu, setelah tidak bertemu hampir tujuh tahun. Suaranya pelan. Dia bertutur dengan kalimat-kalimat yang tersusun rapi. Tapi pengagum Johan Cruyff itu bisa meledak-ledak, berontak, bicara pedas setiap kali menyikapi karut-marut sepak bola nasional. Dia pun tidak peduli menuding orang-orang yang sudah merusak sepak bola di negeri ini. “Saya selalu resah memikirkan sepak bola Indonesia,” katanya.

Ferril–lahir di Surabaya, 9 Agustus 1962–membawa keresahan hatinya ke Kongres Sepak Bola Nasional, yang digelar di Hotel Santika Malang. Namun Ferril seperti orang asing dalam pesta sepak bola itu. Dia seperti berada pada tempat yang salah. Dia berada di komunitas yang berisi orang-orang yang berperilaku bak preman. Suaranya yang pelan dengan kalimat yang santun itu tertelan oleh kegaduhan kongres yang melelahkan itu.

Saya beruntung berteman dengan Ferril. Cerdas dan selalu memberikan pencerahan-pencerahan. Menjelang Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia 2003, yang kemudian menempatkan Nurdin Halid sebagai ketua, kami bertemu di Hotel Santika Jakarta dalam seminar sepak bola. Sebagai pembicara, Ferril hanya memaparkan pembentukan tim nasional yang bermuara dari kompetisi. Dia pantas bicara ini karena Ferril ikut membawa tim nasional meraih medali emas SEA Games Manila 1991 dan menempatkan Indonesia sebagai juara Subgrup III Asia Pra-Piala Dunia pada 1985.

Waktu itu, Ferril tidak bicara moral. Dia begitu sangat percaya, orang-orang yang ingin mengurus sepak bola adalah mereka yang punya hati yang baik. Dia juga tidak pernah membayangkan kelak Nurdin Halid bakal menjadi penghuni penjara Salemba dan memimpin PSSI dari balik jeruji besi.

Selain dengan Ferril, di sela-sela Kongres, saya bertemu dengan Eddy Rumpoko, kawan lama yang kini menjadi Wali Kota Batu. Dan saya sangat menyesal tidak menyambangi Lucky Acub Zainal, pendiri Arema Malang, yang sejak 2005 mengalami kebutaan akibat virus yang menyerang retina matanya. Dari pertemuan-pertemuan ini, saya harus mengatakan betapa indahnya apa yang disebut pertemanan itu

Kulala Bar & Teras adalah tempat ngopi sebagian peserta Kongres, yang letaknya di dekat kolam renang di luar ballroom Hotel Santika. Ketika ngobrol dengan Ferril, juga dengan teman-teman lama, di antaranya Suryopratomo, A.R. Loebis, dan Sam Lantang, saya melihat orang-orang Nurdin di bar terbuka itu. Di sana pula saya mendengar Nurdin menebar teror dalam bentuk sindiran, yang beberapa hari kemudian saya tahu apa yang ia maksud.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin sempat terkena sindiran Nurdin. Ketika sedang ngopi di Kulala Bar, dia didatangi Ketua PSSI itu sambil nyeletuk bahwa kopi yang diminum Ilham dibayar bukan dari hasil korupsi. “Gue tenang aja, gue enggak merasa korupsi,” kata Ilham. Kamis lalu, Ilham, yang datang ke Malang sebagai peserta Kongres, dikabarkan akan diperiksa bertalian dengan pembebasan tanah Gedung Celebes Convention Center pada 2005. Dari sindiran itu, kemudian saya menangkap seolah-olah Nurdin sudah tahu apa yang bakal terjadi terhadap Ilham.

Di Kulala Bar itu pula saya mendengar Nurdin menggugat pertemanan Kesit B. Handoyo, yang memilih keluar dari PSSI, menjelang Kongres Malang. Sindiran ini kemudian saya pahami sebagai rencana awal PSSI melayangkan somasi kepada Topskor, harian olahraga tempat Kesit bekerja.

Topskor, Goal.Com (menurunkan wawancara dengan Yesayas Oktavianus, yang mengatakan “Nurdin Halid itu pembohong besar”), dan Cocomeo Cacamarica (pengamat sepak bola dengan nama asli Erwiyantoro, yang menguliti PSSI sekaligus mengungkap sepuluh dosa Nurdin Halid dalam buku Sepak Bola Indonesia Tertinggal 50 Tahun) memang bakal “dihabisi” PSSI lewat somasi. Tapi somasi ini bocor setelah seorang teman tanpa ia sadari mengisyaratkan bahwa memang Nurdin telah merancang proyek besar untuk menenggelamkan tiga media ini.

Saya beruntung punya teman bernama Ferril Raymond Hattu. Bukan berteman dengan Nurdin Halid, yang telah membawa teror dalam sepak bola, teror kopi pahit di Kulala Bar.

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 11 April 2010, Ilustrasi Imam Yunni)