Yon Moeis
Wartawan Tempo

Ivan Venkov Kolev tidak akan pernah menyesal ketika dia harus meninggalkan Indonesia. Dia dipulangkan karena dinilai gagal. Dia dipecat sebelum tugasnya berakhir. Kolev pergi membawa hati yang tercabik-cabik. Tapi tak seorang pun bisa meraba isi hatinya jika Kolev juga bisa merindukan negeri ini. “Suatu saat saya ingin kembali ke Indonesia,” katanya.

Kolev–lahir di Sofia, Bulgaria, 14 Juli 1957–sangat ingin kembali setelah dia mengenal sepak bola Indonesia pada 1999 ketika menjadi pelatih Persija Jakarta. Dia tak hanya mengenal, tapi juga telah ikut membangun sepak bola di sini. Nama Kolev mencuat ketika membawa tim nasional menjadi runner-up Piala Tiger 2002 dan lolos ke putaran final Piala Asia 2004 di Beijing.

Kolev ikut mengharumkan nama Indonesia di Piala Asia 2007 sekaligus membuat tim nasional disenangi banyak orang. Tapi semua seakan segera berakhir ketika dia diminta menangani tim nasional ke SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima, Thailand. Kolev gagal memenuhi target medali emas karena hanya diberi waktu dua bulan sebelum ke pesta olahraga Asia Tenggara itu. Dia pun dipecat. Tapi, katanya, ”Saya diberhentikan karena ada kebencian di sini.”

Kolev yang pernah dibenci itu kembali saya ingat ketika saya membolak-balik buku dengan judul Visi 2020 Membangun Sepak Bola Indonesia Modern Menuju Industri Sepak Bola dan Pentas Dunia. Buku 349 halaman itu sampulnya berwarna biru, seperti warna buku-buku yang diterbitkan FIFA. Terdiri atas sepuluh bagian dan setiap bagian berdiri sendiri-sendiri.

Sebagai syarat sebuah buku, tentu saja, saya harus mengatakan buku ini sungguh sangat tidak menarik. Hanya berisi pembenaran-pembenaran dan cenderung menyanjung penulisnya dan tidak membuat cerdas yang membaca. Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan jujur, benar, dan tidak membodohi. Juga harus ada sesuatu yang baru. Saya akan berontak jika buku ini benar-benar akan diperbanyak dan diserahkan ke Kementerian Pendidikan Nasional agar para guru membacanya, kemudian diteruskan kepada murid-murid.

Saya benar-benar tidak akan pernah bisa memahami isi buku ini. Pada bagian pertama, misalnya, ada pernyataan Mohamed bin Hammam, Presiden AFC, “Saya melihat Indonesia sebagai Brasil-nya Asia” (halaman 17). Omongan yang menyesatkan dan pernyataan ini tidak lebih dari penjajahan terselubung. Kalau sudah menjadi Brasil-nya Asia, medali emas SEA Games sudah empat kali di tangan. Tapi, nyatanya, sejak mantan narapidana itu menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia pada 2003, Indonesia selalu jeblok di pesta olahraga Asia Tenggara tersebut.

Di bagian kesembilan, yang membahas tim nasional, saya menemukan kalimat, “Tapi masuk final di kawasan ASEAN bukanlah prestasi yang membanggakan bagi bangsa besar dan bangsa bola Indonesia” (halaman 259). Kalimat ini bisa berarti menjadi finalis SEA Games atau Piala AFF sungguh tidak penting dan tidak masuk hitungan. Pantas saja jika kekalahan tim nasional oleh Laos di SEA Games 2009 dianggap sebagai peristiwa biasa.

Bagian dari buku ini hanya menyanjung-nyanjung penampilan tim nasional di Piala Asia 2007. Tapi saya tidak menemukan pemecatan Kolev. Di bagian ini pula terdapat hasil pertandingan-pertandingan tim nasional senior periode 2003-2010 (halaman 263). Tapi saya tidak menemukan daftar kegagalan tim nasional SEA Games (Vietnam 2003, Filipina 2005, Nakhon Ratchasima 2007, Laos 2009).

Bagian kesepuluh buku ini berjudul “Dari Piala Asia 2007 ke Piala Dunia 2022” (halaman 283). Seharusnya bagian ini tidak ada. Bukankah bidding Indonesia (PSSI) untuk Piala Dunia 2022 sudah ditolak FIFA?

Lantas, untuk membangun sepak bola di negeri ini, apakah hanya bisa dilakukan lewat sebuah buku?

Seorang teman belum lama ini berkunjung ke markas Kashima Antlers di Jepang. Dia bertemu dengan Saburo Kawabuchi, pendiri J-League, kompetisi yang digulirkan pada 15 Mei 1993 dengan Verdy Kawasaki sebagai juara musim pertama. Sang teman mendengar pernyataan Kawabuchi, yang mengatakan Jepang tidak terlalu banyak berpikir untuk membangun dan menjadikan sepak bola sebagai sebuah industri. Jepang, katanya, hanya mencontoh yang sudah ada dari negara-negara yang sepak bolanya sudah berjalan. Jepang juga belajar dari Galatama (digulirkan pada 1979). “Ketika kami berlari, kami telah berhasil mengatasi halangan-halangan,” kata Kawabuchi.

Lantas adakah yang bisa kita andalkan dari buku ini?

Saya tidak melihat buku ini sebagai kemampuan untuk merasakan sesuatu yang tidak tampak melalui kehalusan jiwa dan ketajaman penglihatan. Buku ini hanya sebuah mimpi yang diyakini bakal terjadi pada 2020. Betapa kita sebagai manusia-manusia rasional (menurut pikiran yang sehat) dipaksa menjadi sangat ilusif, yang hanya bisa terjadi di balik tembok penjara.

Kolev, terima kasih, Anda telah mencintai sepak bola di negeri ini, yang di dalamnya penuh dengan mimpi-mimpi….

(dengan perubahan judul tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 25 April 2010, Ilustrasi Imam Yunni)