Yon Moeis
Wartawan Tempo

Nugraha Besoes menenggelamkan kepala Nurdin Halid dalam pelukannya ketika sang ketua terduduk menahan air mata. Kemudian suasana kemenangan pun seketika merebak. Dari kejauhan, terdengar ada yang berteriak, “Nurdin sulit dirobohkan….”

Kota Malang, Rabu lalu, disiram gerimis ketika Kongres Sepak Bola Nasional ditutup Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng. Kongres yang berlangsung dua hari dalam tempo tinggi dan melelahkan itu dinilai gagal lantaran tidak berhasil menurunkan Nurdin dari kursi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Alih-alih melengserkan Nurdin, ballroom Hotel Santika Malang ikut menjadi saksi betapa saktinya orang yang pernah mendekam di penjara itu. Dari tujuh butir Rekomendasi Malang, tidak tertera “Nurdin harus mundur”.

Saya tidak akan tergesa-gesa mengatakan kongres yang dinilai gagal itu telah melegitimasi PSSI sebagai organisasi yang kuat, berpengaruh, dan sekaligus membenarkan Nurdin sebagai orang yang tidak bisa disentuh. Saya harus mengatakan PSSI yang sekarang adalah organisasi yang solid, yang di dalamnya dipenuhi para pemberani dan pejuang tangguh.

Keberanian itu saya lihat ketika Nurdin dan kawan-kawan berusaha keras menggugurkan pembentukan Dewan Sepak Bola Nasional, yang tertera dalam rekomendasi kedelapan. Bak sedang membobol tembok dengan linggis di tangan, mereka bergantian bicara. Agum Gumelar, yang berdiri di podium, sebagai ketua umum kongres yang merangkap sebagai ketua sidang pleno; Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, yang menjadi ketua pelaksana kongres; dan Andi Mallarangeng, yang duduk di deretan meja sidang, seperti terhipnosis. Saya berharap tiga tokoh yang peduli terhadap nasib sepak bola Indonesia itu tidak berpikiran macam-macam melihat aksi-aksi mereka.

Nurdin adalah bintang lapangan kongres. Dia bermain cantik, sesekali keras, dan seperti tidak takut terkena kartu merah ketika harus mengambil bola dari kaki lawan. Nurdin memainkan jurus-jurusnya agar gawang timnya tidak kebobolan.

Dua hari berada di arena kongres, saya melihat Nurdin yang sesungguhnya. Lihai, orator ulang, dan pandai berkelit. Dia bisa seenaknya membuang-buang waktu untuk tidak menyikapi pernyataan yang menyangkut dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab atas karut-marutnya persepakbolaan nasional.

Dalam sidang pleno pertama, rekan wartawan Suryopratomo mengungkap tiga syarat yang harus dipenuhi seorang pemimpin, yaitu karakter, kompetensi, dan koneksitas. Mas Tom, demikian saya menyapa Suryopratomo (kami pernah membuat “sebelas butir keprihatinan” untuk PSSI di era kepengurusan Kardono), pasti sudah paham, Nurdin memakai jurus berkelit dan tidak ingin tiga syarat ini menjadi bola liar yang hanya mengusik pribadinya sebagai mantan narapidana. Lain yang ditanyakan, lain pula jawabannya. Sehingga Agum sebagai ketua sidang memperingatkan Nurdin bahwa waktu untuk dia bicara sudah habis.

Nurdin memang tidak jatuh di Malang. Saya pun tidak akan pernah malu dikatakan sebagai orang yang ikut membawa kegagalan itu. Saya gagal membawa perasaan masyarakat sepak bola ke dalam kongres, yang hanya ingin Nurdin segera meninggalkan kursinya.

Saya harus berjiwa besar ketika “dihabisi” seorang wartawan muda yang sok kritis, yang mengatakan bahwa peti mati yang ingin saya bawa dari Malang di dalamnya terdapat saya. Dia, tanpa malu dan ragu, menyebut saya dan beberapa wartawan senior sebagai “macan kertas”. Dari sini, ketika kami masih berada di Malang, saya hanya ingin menyadarkan dia bahwa melawan penjahat tidak cukup dengan sikap dan cara yang baik-baik. Tidak cukup dengan kongres damai yang sudah disuarakan Agum jauh-jauh hari.

Terpecahkah sikap wartawan? Tidak. Kami, rombongan wartawan, Rabu malam lalu, meninggalkan Malang dengan tawa dan canda. Jika mereka merasa menang, kami bukan orang-orang yang kalah. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, restorasi kereta Gajayana kami kuasai. Susu jahe, bakwan Malang, kami santap. Kami berkaraoke bersama dan menguasai mikrofon, persis ketika orang-orang PSSI itu menguasai sidang Komisi A.

Dalam perjalanan menuju Jakarta itu, suara seseorang yang berteriak “Nurdin sulit dirobohkan” sayup-sayup menghilang ditelan malam….

(dengan perubahan judul, tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 4 April 2010, Ilustrasi Yuyun Nurachman)