Yon Moeis
Wartawan Tempo

Robby Darwis tidak akan pernah bisa menahan Jaya Hartono. Dua mantan pemain nasional ini harus berpisah, dan yang bisa Robby lakukan adalah memahami perasaan kawannya itu. Jaya mengundurkan diri dari posisi pelatih Persib Bandung lantaran tak kuat lagi menahan beban, yang dia tanggung sendiri. “Tidak ada lagi kenyamanan dan yang saya dapatkan adalah tekanan-tekanan,” kata Jaya.

Tidak ada persoalan antara Robby dan Jaya. Robby harus melepas Jaya dan, jika ada perpisahan, perpisahan itu merupakan peristiwa biasa. Pada 15 April lalu, Jaya bersiap meninggalkan Bandung dan untuk selanjutnya Robby, yang semula asisten Jaya, menjadi pelatih Persib. Sekalipun ada perpisahan, itu berlangsung singkat dan tidak sampai menumpahkan air mata karena keduanya pernah bermain bersama di tim nasional.

Jaya harus meninggalkan Bandung karena ini merupakan risiko sebagai pelatih. Hari ini dia disanjung, besok dia bisa diberhentikan. Hari ini dia dipuja, besok dia bisa ditendang. Saya belum bisa memahami Jaya ketika dia memutuskan mundur seperti saya tidak mampu memahami Bambang Nurdiansyah ketika meninggalkan Arema Malang (kini Arema Indonesia) pada awal musim Liga Super pertama pada 2008.

Sejatinya mereka adalah manusia-manusia super. Apalagi Jaya, juga Bambang, adalah mantan pemain nasional, yang sudah teruji. Dia tidak boleh kalah dan dikalahkan. Sebesar apa pun tekanan yang diterima, mereka harus bisa melawan. Tidak lantas pergi dan menjadi manusia kalah.

Saya pernah mengingatkan Bambang Nurdiansyah ketika kembali ke Malang untuk menukangi Singo Edan. Sebagai kawan, saya berharap Bambang semakin matang me-manage Arema karena saya tahu dia punya kemampuan untuk itu. Dia juga saya ingatkan agar bersiap menghadapi pers, yang ikut menuntun kariernya. Bambang, dan kini Jaya, pasti tahu, pena wartawan bisa mengangkat sekaligus menjatuhkannya ke jurang yang paling dalam sekalipun.

Fabio Capello, misalnya, memperlihatkan kesiapan menghadapi pers Inggris setelah Direktur Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Inggris (FRA) Brian Barwick memperkenalkan dirinya. Nyali Capello pun tidak lantas ciut ketika Max Clifford, pakar kehumasan Inggris, mengingatkan bahwa dirinya sudah memasuki kawasan perang.

Sungguh sulit memahami Jaya ketika dia memutuskan mundur hanya karena ada yang memaki dia lewat surat pembaca di sebuah harian di Bandung. Tapi sudahlah. Jaya, toh, sudah pergi. Robby, kawannya di tim nasional Asian Games Seoul 1986, tidak akan pernah bisa menahannya.

Kini, setelah Robby menjadi orang nomor satu di Persib, mampukah dia menahan tekanan-tekanan seperti yang pernah dialami Jaya?

Pusaran waktu bagi Robby tak pernah berhenti pada angka 1997. Biarpun pada tahun itu dia telah menyatakan gantung sepatu untuk selamanya, kesetiaan Robby terhadap sepak bola tidak akan pernah meleleh. Demi bola, dia rela meninggalkan tumpukan berkas dan meja kerjanya di Bank BNI Bandung, yang tentu saja sudah menjamin hidupnya.

Robby–lahir di Bandung, 30 Oktober 1965–mulai serius berlatih saat masuk sekolah menengah pertama dan Sekolah Guru Olahraga (SGO) pada 1979. Dia pun bergabung dengan klub Arjuna Lembang. Sejak itu dia keluar-masuk klub, di antaranya Putra Priangan, Setia, dan Pesma (sekarang UPI). Pada 1982, dia mulai aktif di Persib senior. Kegiatannya di sepak bola ternyata menyita waktu belajarnya. “Kasarnya, sekolah itu nomor dua,” kata Robby.

Di bangku terakhir SMA, Robby akhirnya terpilih menjadi anggota tim inti Persib. Pada saat yang bersamaan, dia ikut seleksi pemain untuk memperkuat tim nasional selection, yang berisi pemain-pemain Perserikatan. Hebatnya, ketika masih duduk di bangku SMA, dia sudah memakai kaus tim nasional dan memperkuat Indonesia berlaga di Lion Cup, yang digelar di Singapura.

Karier Robby semakin moncer. Dia ikut mengantar Persib Bandung ke final Perserikatan 1983/1984 sebelum akhirnya dilibas PSMS Medan. Tapi, gara-gara kariernya melesat, sekolahnya pun berantakan. “Orang tua saya marah-marah,” katanya.

Robby yang saya kenal adalah Robby yang telah mengharumkan nama Persib, yang mengantar tim berjulukan Maung Bandung itu menjadi juara Liga Indonesia musim pertama pada 1994. Dia pernah bermain di Kelantan FC di Liga Malaysia. Dia lama memegang ban kapten Persib dan menempati posisi stopper. Dia cerdas dan punya nyali menebas serangan lawan. Robby Darwis juga dikenal sebagai sang jagal.

Kini, setelah menjadi pelatih Persib menggantikan Jaya Hartono, sekuat apakah hati sang jagal itu menghadapi tekanan?

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 2 Mei 2010, Ulustrasi Imam Yunni)

Iklan