Yon Moeis
Wartawan Tempo

Senyum Kosasih Purwanegara masih terbayang. Sejuk dan memberi kenyamanan. Tapi, setelah 19 tahun berlalu, masih adakah senyum itu dalam sepak bola kita?

Besok (Senin, 19/4) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia–berdiri pada 19 April 1930 dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia dan Ir Soeratin Sosrosoegondo sebagai ketua umum pertama–genap berusia 80 tahun. Setiap kali mengingat tanggal ini, setiap kali itu pula saya mengenang orang-orang yang pernah memimpin organisasi sepak bola nasional itu, terutama mereka yang telah pergi.

Sembilan belas tahun lalu–pada 1 November 1991–lima mantan ketua, yakni R. Maladi, Kosasih Purwanegara, Maulwi Saelan, Sjarnubi Said, dan Soeparjo Pontjowinoto, menandatangani kesepakatan yang berbentuk gagasan menjelang Kongres PSSI pada Desember 1991. Gagasan yang termaktub dalam 11 lembar itu berjudul “Meningkatkan Pembinaan Sepak Bola Nasional dengan Memantapkan Peranan Klub sebagai Pusat Pembinaan Sepak Bola” dan berisi masukan perbaikan kompetisi, tim nasional, serta organisasi.

“Kami lima mantan ketua umum, dengan segala kerendahan hati, ingin menyampaikan kesediaan kami untuk membantu membangun sepak bola nasional kita sesuai dengan kemampuan kami masing-masing, jika diperlukan,” demikian tulis mereka.

Tidak ada yang istimewa dari kalimat ini. Biasa-biasa saja dan boleh dibuang ke tong sampah. Namun, bak gerakan mengombak di permukaan air, saya merasakan apa yang ada di dalam hati mereka ketika sepak bola nasional, waktu itu, diyakini kondisinya sedang sangat memprihatinkan. Dari gagasan yang tertuang itu pula saya memahami siapa mereka sesungguhnya ketika hati dan cinta sudah bicara.

Kerendahan hati dan cinta lima mantan pemimpin yang saya lihat itu tergambar dalam diri Kosasih Purwanegara, Ketua Umum PSSI 1967-1975 (sebelumnya wakil ketua ketika R. Maladi menjadi ketua pada 1950-1959). Kosasih–lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 13 Maret 1913–adalah anak keempat dari 12 bersaudara pensiunan Wedana Cikajang, Garut, Jawa Barat. Dulu dia dikenal dengan julukan The Smiling Chairman, ketua yang selalu tersenyum.

Kosasih sudah memperlihatkan dirinya sebagai orang yang mencintai sepak bola ketika duduk di bangku sekolah menengah. Dia bermain untuk klub VEED, anggota Persib Bandung. Di Jakarta, Kos–demikian dia akrab dipanggil oleh kawan-kawannya–bergabung dengan klub PPVIM, dan kemudian MOS dari bond VIJ (sekarang Persija). Ia bermain di posisi kanan luar.

Gagasan lima mantan ketua umum pada Kongres 1991, yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, itu sebelumnya dicurigai untuk mendorong Kosasih kembali memimpin PSSI setelah Kardono menjabat dua periode (1983-1987, 1987-1991). Sebelum kecurigaan itu berkembang, Kosasih cepat-cepat mengatakan, ”Tidak. Situasi saat ini jauh berbeda. Finansial dan fasilitas saya tidak punya. Hanya nasihat yang dapat saya berikan.” Kongres 1991 akhirnya memilih Azwar Anas menjadi ketua menggantikan Kardono, yang telah memberikan dua medali emas SEA Games Jakarta 1987 dan Manila 1991 serta juara Subgrup III Asia Pra-Piala Dunia pada 1985.

Senyum Kosasih telah mewakili sikap empat mantan ketua terdahulu itu. Setelah 19 tahun berlalu, senyum itu saya maknai sebagai salah satu syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin yang tak hanya berkomitmen untuk mencurahkan hidupnya bagi kemajuan sepak bola nasional, tapi juga menjadi pribadi bersih yang bisa menjadi panutan.

Dari senyum Kosasih itu pula saya melihat masih ada orang yang peduli dan membuat kehadiran dirinya dalam sepak bola nasional bisa diterima serta bermanfaat. Tidak seperti pemimpin saat ini, yang terlihat memaksakan diri dan hanya menjadikan jabatan sebagai sarana mempertahankan kepentingan pribadi, juga kepentingan politik yang bersangkutan.

Sikap pemimpin yang tidak memiliki senyum dan tidak memberikan kesejukan–manusia seperti ini tentu saja dipastikan tidak memiliki karakter–akan berimbas ke mana-mana. Lihat saja, sepak bola kita sudah semakin tidak sehat. Karut-marut. Sepak bola tidak lagi dilihat sebagai sebuah permainan yang bisa dinikmati, tapi sepak bola yang di dalamnya sudah disesaki berbagai kecurangan, saling curiga, caci maki, dan politisasi. Pemimpin seperti ini hanya membuat pemain, penonton, maupun pelaku sepak bola menjadi marah dan murka. Bambang Pamungkas, misalnya, terang-terangan memperlihatkan kebenciannya kepada sang Ketua Umum PSSI (“Bambang Pamungkas di Antara Serdadu dan Narapidana”, Koran Tempo, 24 Januari 2010, dan http://www.yonmoeis.wordpress.com).

Saya tidak akan pernah melihat senyum Kosasih di wajah pemimpin organisasi sepak bola di negeri ini. Yang saya lihat adalah dia yang memperlakukan sepak bola sebagai pemuas kepentingan pribadi dan mempertahankan jabatan dengan berbagai cara. Tanpa disadari, sesungguhnya dia adalah manusia lemah. Ibarat gantungan kunci, setiap saat dia bisa dijatuhkan oleh yang memegang kunci itu. Atau, jikapun dia kini duduk dengan segala kenyamanan, sesungguhnya dia duduk di kursi berkaki tiga, yang setiap saat bisa membuat dia terjungkal.

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 18 April 2010, Ilustrasi Gaus Surachman)